RSS

Kematian Itu Pasti..”Kullu Nafsin Zaa Iqatul Maut”

PicsArt_1455062321374

Kematian itu adalah pasti. Alangkah bodohnya kalau kita lebih mementingkan kesenangan dunia semata-mata dengan melupakan kehidupan kekal abadi di akhirat nanti. Alangkah bodohnya manusia yang membuang kesempatan kehidupannya di dunia hingga kematian menjemputnya. Padahal Allah selalu memperingatkan dalam berbagai ayatNya bahawa kematian pasti akan datang dan tak tentu waktunya. Jika ia datang tidak akan mungkin dikedepankan dan dimundurkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya walau sesaatpun dan tidak dapat pula menundakannya.” (QS.al-A’raaf: 34)

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang mempunyai jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)
Untuk itu Allah dan rasulNya memberikan wasiat kepada kita agar jangan sampai mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya dan janganlah kalian mati melainkan kalian mati dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Dengan demikian bererti kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita, sehingga ketika datang kematian kita dalam keadaan Islam.
Ibnu Katsir berkata: “Beribadah kepada Allah adalah dengan taat menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Inilah agama Islam kerana makna Islam adalah pasrah dan menyerah diri kepada Allah… yang tentunya mengandung setinggi-tingginya keterikatan, perendahan diri dan ketundukan”. (lihat Fathul Majid, Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaih hal 14) Yakni kita diperintahkan untuk pasrah dan menyerah kepada Allah. Diri kita dan seluruh anggota badan kita adalah milik Allah, maka serahkanlah kepadaNya.
“Ya Allah kami hambaMu, milikMu, Engkau yang menciptakan kami dan memberikan segala kebutuhan kami. Kami menyerahkan diri kami kepadaMu, kami pasrah dan menyerah untuk diatur, dihukumi, diperintah dan dilarang. Kami taat, tunduk, patuh kerana kami adalah milikmu.”

Inilah makna Islam sebagaimana terkandung secara makna dalam sayyidul istighfar:

أََللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا سْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
Ya Allah Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah (yang patut disembah dengan benar) kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hambaMu. Aku di atas janjiku kepadaMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui untukMu dengan kenikmatanMu atasku. Dan aku mengakui dosa-dosaku terhadapMu, maka ampunilah aku. Kerana sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. (HR. Bukhari, juz 7/150)
Tidaklah seseorang meminta ampun kepada Allah dengan doa ini kecuali akan diampuni.
Dengan ikrar dan pernyataan kita tersebut, kita sedar bahawa semua anggota badan kita adalah milik Allah. Untuk itu harus digunakan sesuai dengan kehendak pemiliknya. Kita harus menggunakan tangan kita sesuai dengan kehendak Allah. Kita harus menggunakan kaki kita untuk berjalan di jalan yang diridhai Allah. Mata, lisan dan telinga kita harus dipakai pada apa yang dibolehkan oleh Allah kerana pada hakikatnya semua itu milik Allah.
Siapakah yang lebih kejam dari orang yang menggunakan sesuatu milik Allah untuk menentang Allah? Sungguh semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan akan ditanyakan langsung pada anggota badan tersebut. Mereka (anggota badan tersebut) akan menjawab dengan jujur di hadapan Allah untuk apa mereka digunakan.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isra’: 36)

Kematian sebagai peringatan
Ayat-ayat dalam alQur`an yang menceritakan tentang kematian terlalu banyak. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari akan terjadinya kematian ini. Namun mengapa kebanyakan mereka tidak menjadikan kematian sebagai peringatan agar bersiap sedia menuju kehidupan abadi dengan kebahagiaan di dalam surga. Sesungguhnya manusia yang paling bodoh adalah manusia yang tidak dapat menjadikan kematian sebagai peringatan. Dikatakan dalam sebuah nasihat:

مَنْ أَرَادَ وَلِيًّا فاللهُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ قُدْوَةً فَالرَّسُوْلُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ هُدًى فَالْقُرْآنُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ أَرَادَ مَوْعِظَةً فَالْمَوْتُ يَكْفِيْهِ
وَمَنْ لاَ يَكْفِيْهِ ذَلِكَ فَالنَّارُ يَكْفِيْهِ
Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur`an cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.
Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.

Diterjermah oleh
al faqir Abu az Zubair
1 Jamadilawwal 1437H
Taman Seri Lanchang

Advertisements
 
Tinggalkan komen

Posted by di Februari 10, 2016 in Aqidah, Manhaj, Nasihat

 

Doa Pengubat Kesedihan Hati…

PicsArt_1454980229873

Ada sebuah do’a yang sangat indah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam dan bahkan beliau sangat menitik beratkan agar umatnya mempelajari do’a ini. Do’a ini merupakan do’a “pengubat kesedihan” yang sangat diperlukan oleh setiap diri kita.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, dia berkata bahwa Rasulullah sallallahu’aliahi wasallam bersabda: “apabila seorang hamba ditimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia berdo’a:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

Allaahumma innii ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwalaka, sammayta bihi nafsaka, aw anzaltahu fii kitaabika, aw ‘allamtahu ahadan min kholqika, awis ta’ tsar ta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robbii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.”

nescaya Allah akan menghilangkan keresahan dan kesedihannya, kemudian Dia akan menggantikan semua itu dengan kegembiraan”. Kemudian para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkan kami mempelajari (menghafal) kalimat-kalimat tersebut?”. Beliau menjawab, “Ya, hendaknya siapa saja yang mendengarnya mempelajarinya” [Riwayat Ahmad1/391, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, al-Hakim, dan yang lainnya, dengan sanad yang sahih menurut pendapat Al-Albani]

Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah, menguraikan kalimat per kalimat dengan sangat indah sehingga sangat membantu dalam memahami serta menghayati do’a yang indah ini, sebagaimana yang terdapat dalam al-Fawaid:

1. Ucapan إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ “sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, anak hamba perempuanMu”, menyiratkan permohonan yang sangat mendalam dan kerendahan diri di hadapan Allah. Ia juga menyiratkan pengakuan bahawa pemohon adalah hambaNya sebagaimana generasi sebelumnya juga hamba-hambaNya, yang sepenuhnya berada di bawah pemeliharaan, pengaturan, perintah, dan larangan Allah. Dia hanya melaksanakan apa yang telah ditetapkanNya sebagai bentuk ‘ubudiyyah-nya, bukan melaksanakan kehendaknya sendiri. Sebab, berbuat sesuai kehendak sendiri bukanlah ciri-ciri seorang hamba sahaya.

2. Dalam ungkapan نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ “ubun-ubunku di tanganMu” secara tidak langsung menegaskan pengakuan kehambaan, dimana seolah-olah perkataan itu bermaksud “Engkaulah yang mengendalikan diriku sebagaimana yang Engkau kehendaki”. Apabila seorang hamba telah menyedari bahswa ubun-ubunnya dan ubun-ubun setiap hamba berada di tangan Allah semata, sehingga Dia boleh melakukan apa saja terhadap mereka, nescaya ia tidak akan takut kepada sesama hamba, tidak akan berharap kepada mereka, dan tidak akan memperlakukan mereka layaknya raja; tetapi sebatas hamba yang dikuasai dan diatur oleh Allah. Dengan demikian, teguhlah tauhid, sifat tawakkal, dan pengabdiannya.

3. Kalimat مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ “HukumMu berlaku atasku, takdirMu adil bagiku”, mengandung dua hal pokok.
Pertama, pemberlakuan hukum Allah terhadap hambaNya.
Kedua, pujian terhadapNya dan makna keadilanNya serta bahswasanya Allah pemilik tunggal kekuasaan dan segala pujian.
Semua yang Dia firmankan adalah benar, semua ketentuanNya adil, semua perintahNya adalah maslahat, serta semua laranganNya mengandung kemudharatan. PahalaNya diberikan kepada yang berhak menerimanya atas dasar karunia dan rahmatNya. HukumanNya diberikan kepada yang berhak menerimanya atas dasar keadilan dan kebijaksanaanNya. Dengan kata lain, “hukum yang telah Engkau sempurnakan dan Engkau berlakukan kepada hambaMu merupakan bentuk keadilanMu terhadap dirinya”.

4. Rangkaian kalimat

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْعَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku memohon kepadaMu dengan setiap Nama yang Engkau miliki, yang dengannya Engkau namakan diriMu sendiri, atau yang engkau turunkan (nama itu) di dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan (nama itu) kepada seorang dari makhlukMu, atau yang hanya Engkau ketahui sendiri”, merupakan bentuk tawasul kepada Allah dengan semua asmaNya, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui hamba. Dan inilah wasilah yang paling dicintaiNya kerana nama-nama Allah merupakan perantara yang menyiratkan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya.

Kalimat أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ “atau yang hanya Engkau ketahui sendiri (dalam ilmu Ghaib di sisiMu)” merupakan dalil tidak terbatasnya asma Allah. Adapun hadis yang menyebutkan nama Allah seratus kurang satu (99) bukanlah bermaksud membatasi jumlah asma Allah. Wallahu a’lam. [tambahan, bukan dari Al-Fawaid]

5. Dan inilah kalimat permohonannya

أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ وَغًمِّيْ

“kiranya Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, pelipur laraku, serta pengusir kecemasan dan keresahanku”. Kata الربيع artinya hujan yang menghidupkan atau menyuburkan bumi. Dengan demikian, do’a ini mengandung permohonan agar Allah menghidupkan hati beliau shallallahu’alaihi wasallam dengan al-Qur’an, juga menerangi dada beliau dengan cahaya al-Qur’an, sehingga antara kehidupan dan cahaya terpadu menjadi satu di dalam dirinya. Begitu pula, mengingat kesedihan, keresahan, dan kesusahan itu bertentangan dengan kehidupan dan terangnya hati, maka Nabi sallallahu’alaihi wasallam memohon agar semua itu sirna dengan perantara al-Qur’an, sehingga kedukaan itu tidak kembali lagi.

Ada 3 hal yang dibenci hati.
Jika berkaitan dengan masa lalu, ia akan memunculkan huzn (kesedihan).
Jika berkaitan dengan masa yang akakn datang, ia akan melahirkan hamm (kecemasan).
Dan jika berkaitan dengan masa sekarang, ia akan menghadirkan ghamm (keresahan). Wallahu a’lam.

Maka dari itu seorang hamba hendaknya memohon kepada Allah agar menghilangkan semua hal yang tidak disukai hatinya, baik yang berkaitan dengan masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang, sehingga hatinya menjadi jernih.(1)

Doa penawar hati yang duka dan untuk ketenangan lainnya

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Allaahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani wal ‘ajli wal kasal, wal bukhli wal jubni wa dhola’iddaini wa gholabatir rijaal

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” [HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173.]
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ اْلأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمُ.

Laa ilaaha illallaahul ‘azhiimul haliim, Laa ilaaha illallaahu robbul ‘arsyil ‘azhiim, Laa ilaaha illallaahu robbus samaawaati wa robbul ardhi, wa robbul ‘arsyil kariim

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Pengampun. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai arasy, yang Maha Agung. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi. Tuhan Yang menguasai arasy, lagi Maha Mulia.” [HR. Al-Bukhari 7/154, Muslim 4/2092.]
اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.

Allaahumma rohmataka arjuu, falaa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin, wa ash lihlii sya’nii kullahu, laa ilaaha illaa anta

“Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh kerana itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” [HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42. Menurut pendapat Al-Albani, hadis di atas adalah hasan dalam Shahih Abu Dawud 3/959.]
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ.

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka, innii kuntu minazh zhoolimiin

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku tergolong orang-orang yang zhalim.” [HR. At-Tirmidzi 5/529 dan Al-Hakim. Menurut pendapatnya yang disetujui oleh Adz-Dzahabi: Hadis tersebut adalah sahih 1/505, lihat Shahih At-Tirmidzi 3/168.]

اللهُ اللهُ رَبِّي لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.

Allahu, Allahu robbii, laa usyriku bihi syai-aa

“Allah, Allah adalah Tuhanku. Aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu.” [HR. Abu Dawud 2/87 dan lihat Sahih Ibnu Majah 2/335]

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ia mengatakan, “Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam ketika ditimpa kesusahan biasa mengucapkan:

لَا إلهَ إلَّا اللّهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ, لَا إلهَ إلَّا اللّهُ رَبُّ الْعَرْ شِ الْعَظِيْمِ, لَا إلهَ إلَّا اللّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْا َرْضِ وَرَبُّ الْعَرْ شِ الْكَرِيْمِ.

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Rabb (Pemilik) ‘Arsy yang agung. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Rabb langit, Rabb bumi dan Rabb (Pemilik) ‘Arsy yang mulia.’” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan, “Apabila Nabi Sallallahu’alaihi wasallam mengalami kesusahan atau kesedihan, beliau mengucapkan:

يَا خَيُّ يَا قَيُّوْ مُ بِرَ خْمَتِكَ اَسْتَغِيِثُ

“Wahai Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurusi makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu-lah aku memohon bantuan.” [HR Al-Hakim]
Dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Do’a ketika ditimpa kesusahan adalah:

اَللَّهُمَّ رَخْمَتَكَ اَرْجُوْ فَلَا تَكِلْنِي إلي نَفْسِيْ طَرْفَةَعَيْنٍ وَاَصْلِحْ لِي شَاْنِي كُلَّهُ لَا إلهَ إلَّا اَنْتَ

“Ya Allah, dengan rahmat-Mu-lah aku berharap, maka janganlah Engkau serahkan (urusan)ku kepada diriku walaupun sekejap pun, dan perbaikilah keadaanku seluruhnya. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” [HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban]
Sumber:
1. Diringkas dari Al-Fawaid, Ibnul Qayyim al-Jauziyah Oleh Pustaka Al-Atsar di http://pustakaalatsar.wordpress.com/2012/12/14/syarah-doa-pelipur-lara/

11377661_1586293548303005_542729458_n

 
Tinggalkan komen

Posted by di Februari 9, 2016 in Hadith, Nasihat

 

Bolehkah Mengunjungi Borobudur?

Mengunjungi-Candi-BorobudurApa hukumnya berkunjung ke tempat-tempat wisata yang merupakan tempat ibadah orang kafir seperti Candi Borobudur dan semisalnya?

Rasyid Ariefiandy

salafy…@myquran.com


Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari

Alhamdulillah.

Ini adalah perbuatan yang di dalamnya terdapat perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat Islam, di antaranya:

  1. Bertentangan dengan firman Allah ‘azza wa jalla:

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Dan barang siapa memuliakan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati kepada Allah.” (al-Hajj: 32)

  1. Bertentangan dengan firman Allah ‘azza wa jalla:

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ

“Dan barang siapa memuliakan perkara-perkara yang memiliki kehormatan di sisi Allah maka hal itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (al-Hajj: 30)

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Islam sebagai suatu bentuk ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan hal itu lebih baik bagi kita di sisi Allah ‘azza wa jalla. Sedangkan tempat-tempat itu merupakan syi’ar-syi’ar kekufuran dan kesyirikan yang diagungkan serta dimuliakan oleh orang-orang kafir sebagai tandingan terhadap syi’ar-syi’ar Islam. Maka apakah pantas bagi seorang muslim yang beriman dan bertakwa untuk mengagumi dan mengunjunginya?

  1. Bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, dihasankan Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, dan asy-Syaikh al-Albani sebagaimana dalam Jilbabul Mar’ah al-Muslimah, hlm. 203—204, dan juga oleh Syaikhuna al-Wadi’i)

Karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat perayaan atau ‘ied bagi kaum musyrikin, sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Bahwa setiap tempat yang dimaksudkan sebagai tempat berkumpul, beribadah, ataupun selain ibadah, maka itu dinamakan ‘ied atau perayaan.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 300)

Jadi mengunjungi tempat-tempat tersebut menyerupai perayaan atau ‘ied mereka, apalagi bila waktu berkunjung tersebut bertepatan dengan waktu ‘ied atau perayaan mereka.

  1. Bertentangan dengan firman Allah ‘azza wa jalla:

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ

“Dan mereka hamba-hamba Allah yang beriman tidak menyaksikan perkara yang mungkar.” (al-Furqan: 72)

Jadi menghadiri/menyaksikan perkara yang mungkar bukanlah merupakan sifat orang-orang yang beriman. Sementara di tempat-tempat itu terdapat berbagai macam kemungkaran. Kalaulah tidak ada kemungkaran lain selain bahwa itu adalah tempat kesyirikan, maka itu sudah cukup untuk menghalangi hamba Allah ‘azza wa jalla yang beriman dan bertakwa untuk mengunjungi tempat tersebut.

  1. Bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Paling tidak dengan pengingkaran dalam hati. Adapun mengagumi dan mengunjungi tempat-tempat tersebut merupakan satu bentuk keridhaan seseorang terhadapnya serta semakin mengokohkan keberadaan tempat-tempat tersebut sehingga menjatuhkan dia dalam perbuatan mudahanah, yaitu bermuka manis terhadap kemungkaran, sedangkan Allah ‘azza wa jalla berfirman:

 وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ ٩

“Mereka kaum musyrikin berharap jika seandainya kamu (wahai Muhammad) bermudahanah terhadap mereka, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama.” (al-Qalam: 9)

Jadi Allah ‘azza wa jalla mengingatkan khalil-Nya (kekasih-Nya) yang juga merupakan peringatan terhadap seluruh umat ini untuk tidak bermuka manis terhadap kaum musyrikin. Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata dalam Taisir al-Karimir Rahman ketika menafsirkan ayat ini, “Kamu setuju dengan sebagian kemungkaran yang ada pada mereka, baik dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan cara diam terhadap perkara yang semestinya diingkari.”

Wallahu a’lam.

 
Tinggalkan komen

Posted by di Februari 7, 2016 in Aqidah, Nasihat

 

Tangisan Sepohon Kayu

ayer-lake1

Hadis tentang tangisan sebatang pohon kurma termasuk hadis yang masyur dan tersebar luas. Riwayatnya mutawatir yang dikeluarkan oleh para ahlu hadis dan diriwayatkan oleh sebahagian para sahabat diantaranya Ubai ibn Ka’ab, Jabir ibn Abdullah, Anas ibn MAlik, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, Sahl ibn Saad, Abu Said al Khudri, Buraidah, Ummu Salamah dan Muthalib ibn Abi Wadda’ah. Semuanya menceritakan riwayat yang semakna dengan hadis ini.

Diantara hadis yang menceritakan tentang tangisan sebatang pohon kurma itu ialah saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah disamping kayu itu pada hari Jumaat. Kisah ini sangat masyur dikalangan para sahabat.

Ibn Umar radiyallahu anhu menceritakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkhutbah di samping sepohon kayu. Pada saat beliau dibuatkan mimbar, beliaupun menggunakan mimbar, maka menangislah kayu itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatangi dan mengusap kayu itu dengan tanganya kepada kayu itu.” (HR Bukhari)

Jabir ibn Abdillah radiyallahu anhu mrnceritakan kepada kami seraya berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari JUmaat berdiri disamping sepohon kayu atau pohon kurma, lalu seorang wanita dari kalangan Anshar berkata : ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mahukah engkau kami buatkan sebuah mimbar?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : ‘(Jika kamu mahu buatlah),’  lalu mereka membuatkan mimbarnya.

Pada saat hari Jumaat tiba beliau shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju mimbar, maka menjeritlah pohon kurma seperti tangisan bayi, Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun turun kemudian memeluk kayu itu yang merintih seperti anak yang masih kecil.

Jabir radiyallahu anhu berkata, “Pohon kurma itu menangis kerana kebiasaannya dahulu mendengar zikir yang diucapkan disisinya.” (HR Bukhari)

Dari Anas ibn Malik radiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkhutbah di samping sepohon kayu. Pada saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dibuatkan sebuah mimbar. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke mimbar itu, lantas kayu itu menjerit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mendatanginya dan memeluknya. Kayu itu pon diam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seandainya aku tidak memeluknya, ia akan tetap menjerit sehingga hari kiamat.” (HR Ibnu Majah dan disahihkan oleh Imam al Albani dlm Sahih Ibn Majah)

Al Hafiz Ibn Hajar berkata, “Sesungguhnya tangisan sepohon kayu dan terbelahnya bulan dinukil dari keduanya dengan banyaknya nukilan, yang memberikan faedah secara pasti bagi para imam ahli hadis yang meneliti jalan-jalan tersebut.” (Fathul bari 6/685)

Ibnu Kathir berkata ,” Sesungguhnya perkataan (Imam Syafie) bahawa ini lebih besar darinya, kerana sepohon kayu bukanlah makluk hidup (seperti manusia) dan bersamaan itu pula terdapat padanya perasaan dan cinta tatkala beliau berpindah darinya kepada mimbar, lalu menangis seperti suara tangisan unta yang hamil, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun dari mimbar lalu memeluknya.” (Bidayah wa Nihayah 6/276)

Dahulu tatkala al-Hasan menceritakan hadis ini, ia menangis seraya berkata , “ Wahai ma’asyiral muslimin, sepohin kayu menajgis kerana rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kamu lebih layak untuk merindukan perjumpaan dengannya…”

“Ya Allah, kukuhlah iman kami. Berikan kami kekuatan untuk menjalankan perintah Mu dan menjauhi laranganMu sesuai dengan apa yang Engkau dan RasulMu perintahkan, jadikan kami sebahagian dari golongan yang telah Engkau janjikan kemenangan di dunia dan di akhirat..ameen Alllahuma amen…”

Wa’Allahu’alam..

 

 
Tinggalkan komen

Posted by di Januari 28, 2016 in Hadith, Nasihat

 

Andai sudah tiba panggilanNya…

Pagi ini, aku bangun dengan linangan air mata..

entah kenapa…

perkataan yang seringkali berulang di dalam kotak fikiranku,

“kematian sentiasa mengintaimu dari jendela..”

aku sebak…

mungkin kerana terlalu sibuk dengan aktiviti harian dunia yang melekakan..

sehinggakan lupa untuk duduk bersimpuh dihadapan Allah.

memuji kebesaranNya..

memohon keampunanNya..

mengingat kembali nikmat-nikmatNya yang sentiasa mengalir tanpa henti..

sejak kebelakangan ini,

sering juga aku bermimpi menziarahi saudara-saudaraku, rakan-rakan sepermainan ku dulu, guru-guruku yang sudah tiada di alam ini…

mungkin juga Allah ingin mengingatkanku.

kematian itu akan hadir pada bila-bila masa sahaja.

adakah berbaloi kesibukan ini jika pengakhirannya hanyalah di neraka?

adakah berbaloi jika kesibukan ini tiada redha dan rahmat disisi Allah?

naudzubillahi minzalik..

terkadang, kesibukan ini membuatkan kita terlupa tujuan asal penciptaan kita.

terkadang kita lupa bahawa masa ini adalah milik Allah, bukan milik kita sepenuhnya.

juga kita selalu terlupa bahawa kehidupan kita ini disusun oleh Allah.

kita tiada hak dan kuasa untuk menyusun hari-hari kita sepenuhnya.

kalau Allah hendak matikan kita,

bila-bila masa sahaja Dia boleh ambil kembali HaqNya.

Rugilah, jika masa yang sekejap ini pengakhirannya bukan di Syurga.

kerana kemenangan yang sebenar bukanlah apabila cita-cita kita tercapai seperti mendapat kerja yang professional, bergelar Dr. , dan sebagainya.

Tetapi kemenangan yang sebenar adalah apabila saat kaki kita bertapak di Syurga ALLAH SWT..

Terngiang-ngiang kembali Surah Al-Imran ayat 185 yang bermaksud :

“Setiap yang bernyawa akan merasai mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu…”

Ya Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati hamba-hambaNya..Aku merayu padaMu Ya Allah..janganlah Engkau golongkan aku dalam golongan orang-orang yang rugi…Tempatlah aku bersama golongan-golongan yang membela agamaMuYang membela dari pendustaan kaum yang membenci dan yang cuba merosakkan agamaMU..Ya Rabbku terimalah segala amalan-amalanku dan kabulkan doa hambaMu yang faqir ini..

Allahumaameen…

“Dan orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang yang berusaha membaiki amalannya.” (QS. Al-‘Ankabut:69)

Abu az-Zubair al Barlisi

kematian

 
Tinggalkan komen

Posted by di Disember 31, 2015 in Nasihat

 

Berilmu Sebelum Beramal Dan Mendakwahkannya (Menyebarkannya)

d8a5d986-d987d8b0d8a7-d8a7d984d8b9d984d985-d8afd98ad986-d981d8a7d986d8b8d8b1d988d8a7-d8b9d985d986-d8aad8a3d8aed8b0d988d986-d8afd98ad986Pada ketika dan saat ini ramai dikalangan ikhwan dan akhwat yang bersemangat terjun ke medan dakwah mengajak manusia kembali mempratikkan Islam melalui pelbagai sumber termasuk dimedia sosial. Disatu sisi tampak kebaikkan yang mereka lakukan iaitu al`amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar. Namun sayang, kebanyakkan mereka berjaya menyelamatkan umat dari melakukan dosa-dosa maksiat tapi lantas terjun ke amalan bid’ah dan syirik. Punca utama kepada “penyakit” yang kronik ini adalah jahilnya mereka didalam agama.

Salah seorang ulama Salaf yang terkenal, Imam Sufyan ats Tsauri rahimahullah (161H) pernah berkata, “Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan. Pelaku kemaksiatan masih mungkin untuk dia bertaubat dari kemaksiatannya sedangkan pelaku bid’ah sulit untuk bertaubat daripada bid’ahnya.” (Syarhus Sunnah dan al-Lalika’i dalam Syarh Ushul al-I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, no. 23)

Amat menyedihkan, semangat mereka untuk menyebarkan ajaran Islam tidak berlandaskan dari petunjuk salafus ummah. Para ulama salaf telah memberikan peringatan bahawa agama ini ilmu, maka harus selidiki dari manakah sumbernya, apatahlah lagi mahu menyebarkannya pada umum.

Hal ini terbukti sepertimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ’Umar radhiyallaahu ’anhuma :

يا بن عمر دينك دينك انما هو لحمك ودمك فانظر عمن تأخذ خذ عن الذين استقاموا ولا تأخذ عن الذين مالوا

”Wahai Ibnu ’Umar, agamamu! Agamamu! Ia adalah darah dan dagingmu. Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan ambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah)” (Al-Kifaayah fii ’Ilmir-Riwayah oleh Al-Khathib hal. 81, Bab Maa Jaa-a fil-Akhdzi ’an Ahlil-Bida’ wal-Ahwaa’ wa Ihtijaaj bi-Riwayaatihim, Maktabah Sahab).

Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ’anhu ketika berada di masjid Kuffah (Iraq) pada suatu hari pernah berkata :

انظروا عمن تأخذون هذا العلم فإنما هو الدين

”Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, kerana ianya adalah dien/agama”

Muhammad bin Sirin (seorang pembesar ulama tabi’in) berkata :

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

”Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya 1/7 Maktabah Sahab).

Dari perkataan di atas kita dapat simpulkan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam serta para shahabat dan tabi’in (serta ulama lain setelah mereka)sentiasa memperingatkan agar kita mengambil ilmu dari orang yang alim, ’adil (terpercaya dalam agamanya) dan istiqamah, serta melarang mengambil ilmu dari orang-orang jahil dan fasiq. Imam Malik bin Anas menambahkan : ”Ilmu tidaklah diambil dari empat orang :

من سفيه معلن بالسفه وإن كان أروى الناس ولا تأخذ من كذاب يكذب في أحاديث الناس إذا جرب ذلك عليه وإن كان لا يتهم ان يكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا من صاحب هوى يدعو الناس الى هواه ولا من شيخ له فضل وعبادة إذا كان لا يعرف ما يحدث

”(1) Orang yang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun ia banyak meriwayatkan dari manusia; (2) Pendusta yang ia berdusta saat berbicara kepada manusia, meskipun ia tidak dituduh berdusta atas nama Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam (dalam hadis); (3) Orang yang menurutkan hawa nafsunya dan mendakwahkannya; dan (4) Orang yang mempunyai keutamaan dan ahli ibadah, namun ia tidak tahu apa yang dikatakannya (yaitu tidak faqih)” (Al-Kifaayah 1/77-78).

Manusia pada zaman ini hanya mengukurkan seseorang itu berilmu dengan hanya pakaiannya yang berjubah berserban, mendapat gelaran seperti ulama, syaikh, ustaz/ustazah atau sebagainya tanpa ada kayu ukur iaitu “memeriksanya” apakah ilmu ang didapatkan itu selari dengan al Quran dan as Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus soleh. Semoga Allah berikan kita petunjuk yang haq supaya kita meniti diatas jalan yang haq, Allahuma ameen..

Ditulis pada pagi 15 Zulkaedah1436H yang mulia,
Abu az Zubair

 
Tinggalkan komen

Posted by di Ogos 30, 2015 in Manhaj, Nasihat

 

Fa Thuuba Lil Ghuroba’

PicsArt_1439909227082Manusia yang terasing kerana menjadikan sunnah sebagai acuan hidup ditengah manusia yang sekelilingnya jauh dari pertunjuk sunnah dan lebih akrab dengan bid’ah, maka bersabarlah wahai kaum yang asing (al ghuroba’) itu kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan khabar gembira buat kamu. Biarkan mereka mengejek, menghina dan mencemuh hanya kerana kita menyelisihi adat nenek moyang yang jauh dari syariat Islam yang haq. Sesungguhnya kita hanya mengharapkan keredhaan Allah Ta’ala semata bukan keredhaan dan pujian manusia sekeliling.
Allah telah mengabarkan bahawa jika kita menuruti kebanyakkan manusia bukanlah jaminan kebahagiaan seperti didalam firmanNya

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. al An’am: 116)

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi khabar gembira kepada golongan yang asing yakni yang berada diatas petunjuk sunnah melalui hadisnya,

بَدَأَ الإِسلامُ غريبًا، وسَيَعُودُ غريبًا كما بدَأَ ، فطُوبَى للغرباءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat mula kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ « إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». قَالَ قِيلَ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ. قال الشيخ الألباني : صحيح دون قال قيل

“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah? “Mereka yang “menyempal” (berseberangan) dari kaumnya”(HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darimi disahihkan oleh Syaikh Al Albani )

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا وَيَرْجِعُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِى مِنْ سُنَّتِى ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan islah) di saat manusia berpaling dari sunnah-sunnah ku”(HR. At Tirmidzi dinilai hasan oleh Imam At Tirmidzi)

« طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ » ﴿رَوَاهُ أحمد ﴾ تعليق شعيب الأرنؤوط : حسن لغيره مكرر

“Beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya : “Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang soleh yang berada di antara orang-orang fasik yang jumlahnya banyak sekali. Yang menentang mereka lebih banyak dibandingkan yang mengikuti ”(HR. Ahmad)

فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ :”الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ

“Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’ruf dan nahi munkar) di saat manusia dalam keadaan rosak” (HR. Thabrani dengan periwayat yang terpercaya /shahih)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Kamu jangan merasa rendah diri kerana menempuh jalan yang benar walaupun sedikit orang yang menempuhnya, dan kamu jangan tertipu dengan yang bathil walaupun banyak orang yang mengamalkannya.” (Minhajul Taksis wat Taqdis fi Kasfi Syubuhat, Dawud bin Jarjis: 1/84)

Wa akhirul qalam, fa thuuba lil ghuroba’ ..maka berbahagialah bagi kaum ghuroba’ yakni orang-orang yang asing yang berdiri diatas kebenaran..

Abu az Zubair

 
Tinggalkan komen

Posted by di Ogos 19, 2015 in Hadith, Manhaj