RSS

CIRI – CIRI SURURIYYUN INDONESIA / MALAYSIA MENGELABURI UMAT ATAS NAMA DA’WAH SALAFIYYAH

26 Apr

CIRI – CIRI SURURIYYUN INDONESIA / MALAYSIA MENGELABURI UMAT ATAS NAMA DA’WAH SALAFIYYAH

bismillah

artikel ini semoga bermamfaat untuk penuntut ILMU yang ingin mengenal manhaj salaf yang MURNI,dan mengetahui [perbezaan dari orang2 hizbiyyun yang mengatas namakan da’wah salafiyyah.

1. berlemah lembut dengan AHLU BID’AH dan orang hizbiyyun ” tamyi ala manhaj ”

catatan : terkadang mereka membuat pengkaburan ( membuat bingung ) biasanya mereka bertanya kepada orang yang mengambil sikap BARA terhadap ahlu bid’ah atau hibzi ” hati hati akh jangan sembarangan antum memvonis AHLU BID’AH atau HIZBI sudah antum nasehatkan blom ?” fulan ini bertanya yang membuat bingung ?

padahal orang tersebut sudah jelas – jelas AHLU BID’AH dan HIZBIYYUN tapi orang2 sururiyyun ” mendorong supaya TA’ARUF dalam rangka menasihati ” padahal orang tersebut dalam keadaan LABIL kurang kokoh pada akhirnya orang tersebut menjadi HIZBI karena dorongan orang2 sururiyyun untuk menasihati AHLU BID’AH itu.

Telah berkata Abu Al-Jauzaa’ – dimana ia
merupakan salah seorang ulama besar dari kalangan tabi’in – : لأن
يجاورني قردة وخنازير أحب إليّ من أن يجاورني أحد منهم – يعني : أصحاب
الأهواء – . “Sungguh,… seandainya aku bertetangga dengan
monyet-monyet dan babi-babi itu lebih aku sukai dibanding aku
…bertetangga dengan mereka – yaitu para pengekor hawa nafsu – “
[Al-Laalikaai no. 231, dengan sanad laa ba’sa bihi].

hambal bin ishaq berkata : saya mendengar abu abdillah (IMAM AHMAD) berkata : ” tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahlu bid’ah dan duduk bergaul dengan mereka”.(AL ibanah 2/475 nomor 495)

maka jelas kita di LARANG bergaul dengan orang2 HIZBI dan AHLU BID’AH

2.da’wah tasawwul ( mengemis atas nama da’wah ) dengan membuat yayasan da’wah

banyak di antara mereka membuat yayasan da’wah,biasanye untuk mencari dana membangun masjid atau keperluan2 da’wah dan keperluan hidup seorang dai mereka.

Hukum mendirikan yayasan dan organisasi untuk dakwah

Soal :

Apa hukum mendirikan yayasan atau organisasi untuk menyebarkan da`wah salafiyyah? karena di negeri kami kalau yayasan atau organisasi ini tidak berdiri maka kebanyakan orang tidak tertarik kepadanya bahkan mereka menuduhnya sebagai da`wah yang sesat. Maka sebagian da`i mendirikannya untuk kesinambungan da`wah ini. Jazakumullahu Khairan.

Jawab :

Saya katakan kepadamu wahai saudaraku ajarkanlah pelajaran di masjid dan tetaplah di dalamnya walaupun sendiri. Barangsiapa yang datang kepadamu di atas kebaikan dan sunnah dan walaupun hanya sepuluh orang bersamamu dan kamu ajari mereka kitab dan sunnah maka engkau dianggap sebagai da`i yang beruntung dan berhasil.

Demi Allah sepuluh orang yang datang kepadamu dan kamu mengajari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam kepada mereka dan mereka keluar sebagai ulama dan da`i maka sesungguhnya engkau beruntung. Tinggalkanlah keinginan mencari pengikut yang banyak dan mengumpulkan pengikut dari sana dan sini dengan alasan orang awwam berkata demikian mereka menginginkan demikian dan mereka menyukai demikian.

Wahai saudaraku, orang-orang awwam sangat perlu pengarahan untuk diri mereka sendiri bukanlah mereka yang mengarahkanmu dan menguasaimu, sebaliknya kamulah yang harus menjelaskan kepada mereka bahwa belajar agama di masjid adalah lebih utama. Dan bahwasanya kita salafiyyun tidak perlu terhadap organisasi, karena organisasi ini tidaklah mendatangkan sesuatu bagi manusia kecuali percekcokan, penyakit, perpecahan dan perselisihan serta menyempitkan dada.

Rasulullah Shallalahu `alaihi wa aalihi wa sallam bersabda:

«من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد»

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara agama kami ini maka yang ia bukan bagian darinya maka ia tertolak” (Hadist Aisyah Radiyallahu `anha Riwayat Al-Bukahri (2697) dan Muslim (1718))

Demi Allah ketetapan dan kondisi perkara ini di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam sudah ada. Ustman bin Affan radhiyallahu `anhu dia adalah golongan hartawan, Abdurrahman bin `Auf radhiyallahu `anhu ia adalah golongan hartawan dan Abu Thalhah setelah itu menjadi golongan hartawan juga dan sejumlah hartawan dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi mereka ada Ashaabus Suffah. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi shodaqoh maka beliau mengirimkan shodaqoh itu kepada mereka sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah (diriwatkan Al-Bukhari 6452) dan jika beliau diberi hadiah maka beliau mengambil sebagiannya kemudian beliau memberikan kepada mereka dan beliau tidak berkata “Berkumpullah kalian dan buatlah kotak infaq atau organisasi untuk Ashabus Suffah dan yang semisal dengan Ashabus Suffah”. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika didatangi tamu maka beliau mengirim tamu itu kepada keluarga-keluarga beliau, maka beliau tidak mendapatkan sesuatu kecuali air. Setiap istri beliau berkata, “Demi Allah kami tidak memiliki sesuatu keculai air,” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Siapa yang hendak menjamu tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” maka dibawalah dia oleh salah seorang shahabat beliau dan ia diberi makan makanan anak kecil. (Hadist tersebut di dalam As-Shahihain dari hadist Abu Hurairah, Al-Bukhari 4889 dan Muslim 2094)

Janganlah salah satu di antara kalian merasa gentar dan takut untuk mengatakan kebenaran. Demi Allah organisasi-organisasi ini tidaklah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya katakan ini dengan terus terang!! Ia tidaklah datang kecuali dari orang-orang yang menganggap baik dalam agama mereka. Mereka tidak memiliki syara’ yang benar yang mereka jalani di dalam agama mereka. Karena itu mereka mendatangkan sesuatu dari mereka sendiri untuk mereka jalani seperti Jam’iyyah Yunus, organisasi ini, organisasi itu. Adapun kita, maka agama kita adalah agama rahmah dan agama kita adalah agama yang benar, memberi hak pada setiap yang berhak mendapatkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang mukmin dan mukmin yang lain ibarat bangunan. Yang mana sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (Hadits Abu Musa Al Asy’ari, Bukhari 481 dan Muslim 2585)

«مثل الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ»

“Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam menyayangi dan mencintai sesama mereka seperti satu jasad.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Nu’man bin Basyir)

Sedangkan agama kita adalah agama yang mensyariatkan zakat, sedekah, dan berbuat baik kepada orang tua dan memberi hak tetangga, hak persaudaraan dan memuliakan tamu, maka kita tidak perlu terhadap organisasi semacam ini. Kita berjalan di atas jalan salaf kita –rahimahumullah-.

(Al As’ilah Al Indonisiah, 25 Jumadi Tsaniyah 1424 H)

Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

Hati-Hati Terhadap Jam’iyyat

Soal :

Berkaitan dengan perkara pondok, terkadang kami sangat memperlukan dana dan sangat sulit bagi kami untuk mengumpulkannya. Sementara tidak ada donatur tetap yang menopang dakwah kita dengan kesadaran pribadinya. Apakah boleh bagi kami untuk memberi semangat manusia untuk berinfak dan kita mengambil sebagian harta dari mereka tanpa batasan tertentu dengan tujuan ini?

Jawab :

Mereka boleh menganjurkan berbuat kebajikan berupa sedekah, atau infak pada khutbah umum, sebagaimana yang telah diperbuat oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam ketika datang orang-orang fakir kepada beliau. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam menganjurkan para shahabat ridhwanullah ‘alaihim, untuk bersedekah kepada mereka.

Tetapi awas! Hati-hati jangan sampai kalian mendirikan yayasan (jam’iyah) atau kotak-kotak sumbangan seperti yang dilakukan oleh hizbiyyin. Jauhilah perkara ini!

(Al As’ilah Malaiziah)

Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسي كافرا أويمسي مؤمنا ويصبح كافرا يبيع دينه بعرض من الدنيا قليل.
“Bergegaslah untuk beramal ketika menghadapi fitnah, yang fitnah itu seperti sebagian malam yang gelap yang seseorang itu beriman pada pagi hari dan menjadi kafir di sore harinya, atau seseorang itu beriman di sore hari lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan harta benda dunia yang sedikit). (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

3. mereka dalam menuntut ILMU mencari gelar lebih AFDHOL menurut mereka seperti gelar – gelar muhdats DR,LC.MA

MANA YANG LEBIH PENTING, ILMU ATAU IJAZAH ?

Syaikh Muqbil Bin Hady Al Wadi’i ditanya :

Apa sebab yang menjadikan kebanyakan dari kaum muslimin lebih mengutamakan ijazah dari pada ilmu yang bermanfaat dan apa sebab berpalingnya mereka dari ilmu ini ?

Beliau menjawab :.

Sebabnya adalah sebagaimana yang Allah beritakan dalam tanzilnya :

إِنَّ هَؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).” (QS. Al-Insan : 27)
Inilah sebabnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan dari sifat ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm : 29-30)

Adapun kita, Alhamdulillah. Allah telah memberi kenikmatan untuk mempelajari sunnah Rasulullah Sholallahu alaihi wassallam dan juga kitabullah ‘aza wa jala serta ilmu yang bermanfaat yang tidak memberi madhorot “bahaya”. Dan aku katakan, di sana banyak orang yaitu para ulama yang kurang peduli dalam penyebaran ilmu ini , banyak dari ulama yang tidak duduk di masjid-masjid, dan dalam perkara ini, mereka memiliki kekurangan, maksudnya hendaknya mereka itu bergabung ikut andil dalam masalah ini .
Padahal ijazah itu sendiri tidak memberi manfaat kepada seorang muslim dan bahkan terkadang tidak bermanfaat untuk agamanya dan juga dunianya, Adapun Alqur’an sungguh telah memberi manfaat kepadanya (seorang muslim) sebagaimana sabda Nabi Sholallahu alaihi wassallam :

من قراء القران و عمل به البس تاجا ضوءه احسن من ضوء الشمس يوم القيمةو يكسى والديه حلتبه لا تقوم لها الدنيا فيقولان : بما كسينا هذا ؟فيقال : باخذ ولدكما القران

Artinya : “Barangsiapa yang membaca Alqur’an dan mengamalkannya di pakaikanlah kepadanya mahkota yang sinarnya lebih bagus dari sinar matahari di hari kiamat kelak dan kedua orangtuanya di pakaikan kepada mereka sutra yang tidak ada di dunia ,mereka berkata, dengan amalan apa sampai kami di beri pakaian ini ? di katakan kepada mereka dengan amalan anakmu terhadap Al qur’an” (Al-Hadits).

Alhamdulillah, telah banyak orang yang menerima Alqur’an dan ilmu yang bermanfaat ini , adapun ijazah-ijazah itu telah menelantarkan banyak dari para pemuda yang sebenarnya mereka memiliki kecerdasan serta pemahaman yang kuat. Mereka mampu menghafal Alqur’an dalam waktu lima, tujuh bulan ataupun setahun , akan tetapi mereka “hilang” dengan sebab ijazah. Dan kebanyakan dari para pemuda tidak mengambil faidah dari ilmu dunia ataupun akhirat (yang mereka kejar) terkadang ada seseorang yang sudah duduk di SMP atau SMA dalam keadaan mereka tidak bisa membaca dengan baik :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Kemudian kebanyakan dari ahlul ilmi mereka tidak menunaikan kewajiban mereka untuk mengajar di masjid masjid. Dan (akhirnya) anak-anak kaum muslimin pergi ke sekolah-sekolah, seandainya saja para ulama tersebut menunaikan kewajiban mereka, yaitu mengajar di masjid-masjid, tentunya kebanyakan dari sekolah-sekolah akan menghilang (bubar). Kita berdoa kepada Allah agar para ulama muslimin di beri taufik untuk perkara yang demikian itu ,sesungguhnya Allah sangat mampu terhadap segala sesuatu..

Dinukil Dari : Ijabatus Sa’il karya Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy

Diterjemahkan oleh : Abu Nu’aim Fandy

dalam perkara ini terkadang mereka menuntut ILMU universiti2 seperti AL AZHAR yang notabene MARKAS BESAR IHKWANUL MUSLIMUN.

demi mengejar gelar LC,mereka tidak peduli lagi kepada siapakah menuntut ilmu ( AHLU BID’AH )

Pernyataan Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad tentang Jami’ah Islamiyah di Madinah,
Sebuah Kenyataan
yang Tidak Bisa Dipungkiri,
Ambillah Pelajaran Wahai Para Salafi
Ditulis oleh : Abu Zakariya Irham Al-Jawi
الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين ، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله وأصحابه ومن تبعه إلى يوم الدين وأما بعد:
Sudah menjadi sunnatulloh bahwa al-haq akan menang, cepat atau lambat, dan kebathilan akan terkuak walaupun pembawanya berusaha sekuat tenaga dan menempuh berbagai cara dan muslihat.
AllohY telah berfirman:
ö@t/ ß$ɋø)tR Èd,ptø:$$Î/ ’n?tã È@ÏÜ»t7ø9$# ¼çmäótBô‰uŠsù #sŒÎ*sù uqèd ×,Ïd#y— 4 ãÇÊÑÈ
“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” [QS. Al-Anbiya’:18]
Belum lepas dari ingatan salafiyyin seputar Jami’ah Islamiyah di Madinah yang disulut oleh ‘Ubaid Al-Jabiri, kemudian ditiup oleh pengikutnya semisal Sarbini dan Luqman Ba’abduh serta orang-orang yang semisal dengan mereka, sehingga apinya berkobar dan menyebar luas.
Permasalahan tersebut tidak lain adalah tuduhan dan cercaan mereka kepada Syaikh kami, Abu ‘Abdirrohman Yahya Al-Hajuri, bahwa beliau telah berfatwa dengan fatwa keji dan mungkar karena telah berani menghukumi bahwa Jami’ah Islamiyah ada hizbinya, serta menasehatkan thulabul ‘ilmi untuk belajar ke tempat yang lebih bagus dari sisi kemurnian manhajnya. (Lihat kembali bantahan kami kepada Sarbini dalam buku “Di Atas Al-haq Kami ‘kan Berlabuh”)
Sungguh fatwa Syaikh kami tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang bodoh atau orang-orang yang telah terjangkiti penyakit ta’ashshub, sehingga berusaha sebisa mungkin untuk menjatuhkan lawan. Oleh karena itu, kami berikan kabar gembira kepada seluruh salafiyyin, dengan turunnya pernyataan Syaikh ‘Abdul Muhsin, mantan rektor Jami’ah Islamiyah sendiri yang berisi paparan ringkas tentang keadaan Jami’ah yang menguatkan kebenaran Syaikh kami dan menguak borok ta’ashshub ‘Ubaid, Sarbini dan kawan-kawannya.
Maka simaklah kisah tragis yang menimpa Jami’ah ini dan marilah kita mengambil pelajaran darinya, sehingga tidak tertimpa bencana yang serupa. Judul pernyataan tersebut adalah:
“Kenanganku Tentang Jami’ah Islamiyah di Madinah Al-Munawaroh Setelah Berlalu Setengah Abad dari Masa Didirikannya.”
Pernyataan ini diambil dari situs sahab.net yang beliau tulis pada 20 Jumadil Akhir 1431.
Setelah beliau memaparkan tentang awal berdirinya Jami’ah yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad bin Ibrohim dan Syaikh ‘Abdil ‘Aziz bin Baz, yang penuh dengan kejayaan dan telah menghasilkan para du’at dan ‘ulama yang mumpuni, beliau berkata pada point 16:
“Saat itu (zaman Syaikh Ibnu Baz) adalah saat-saat kepemudaan Jami’ah Islamiyah yang penuh dengan kekuatan dan semangat dalam bidangnya yang khusus (yaitu ‘ilmu Syari’ah), baik dalam belajar-mengajar maupun dalam dakwah. Saat-saat dimana Jami’ah mempunyai wibawa yang tinggi (di mata umat).
Setelah saya ditunjuk sebagai wakil Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz sebagai rektor, selang beberapa waktu saya singgah di kediaman beliau sebelum berangkat ke Jami’ah. Saat itu Syaikh ‘Abdulloh Al-Khushoin sedang membacakan kepada beliau macam-macam mu’amalah demi kemaslahatan kaum muslimin. Beliau berkata kepadaku: “Tadi malam saya bermimpi sedang menuntun seekor bakaroh (onta muda), dan engkau menggiringnya dari belakangnya. Aku tafsirkan bahwa bakaroh tersebut adalah Jami’ah Islamiyah.” Bakaroh adalah unta betina yang masih muda.
Sungguh saya telah menggiring unta muda tersebut di belakang beliau selama 2 tahun. Setelah beliau pindah dari Jami’ah, akulah yang menuntun sendiri unta itu selama 4 tahun penuh.
Adapun kehidupan baru Jami’ah -sebagaimana yang diklaim wartawati itu- di awal-awal kemunduran Jami’ah pada bidangnya yang khusus, pada hakikatnya adalah masa-masa ketuaan dan kelemahan yang patut untuk di kasihani. Sungguh aku telah menjalani kehidupanku dengan Jami’ah ini, dan aku dapati masa-masa mudaku di masa-masa kepemudaannya yang penuh dengan kekuatan. Kemudian aku dapati pada masa tuaku masa-masa ketuaan Jami’ah, kerapuhan dan kelemahannya (Tua Renta)(1). Hanya Alloh-lah tempat kembali segala perkara, yang telah berlalu maupun yang yang akan datang.
Sungguh suatu perkara yang menyedihkan dan menjadikan hati ini terenyuh sakit ketika melihat Jami’ah yang dibangun di atas ketaqwaan di awal berdirinya, dibangun oleh dua Syaikh yang mulia; Syaikh Muhammad bin Ibrohim dan ‘Abdil’ Aziz bin Baz, kemudian setelah berlalu setengah abad keadaannya berubah menjadi seperti debu yang beterbangan.”
Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, kenapa Syaikh ‘Abdul Muhsin menyebut-nyebut wartawati? Kalaulah sekedar menyebut wartawan mungkin tidak terlalu mengherankan kita, tapi beliau menyebut wartawati. Jawabannya adalah pernyataan beliau sebelumnya. Pernyataan yang membuat dahi semakin berkerut dan hati ini terasa sesak dan bulu kuduk merinding. Suatu musibah yang sama sekali tidak terbesit di benak salafiyyin bisa menimpa Jami’ah tersebut. Beliau berkata:
“Di tengah-tengah aku mempersiapkan pernyataan ini, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah selebaran tertanggal 30/5/1431 H, yaitu sehari sebelum genapnya setengah abad dari umur Jami’ah Islamiyah. Selebaran itu berisi kesepakatan yang telah disebarkan surat kabar Riyadh tentang keputusan-keputusan Majlis Ta’lim Al-‘Ali (semacam Depdiknas di negara kita). Tertera dalam point pertama keputusan tersebut: Pembukaan 3 cabang fakultas di Jami’ah Islamiyah Madinah Al-Munawaroh, yaitu Fakultas Ilmu Pengetahuan Umum(Sains), Fakultas Komputer dan Fakultas Tehnik.”
Jadilah Jami’ah Islamiyah yang dulu menjadi kebanggaan salafiyyin tidak jauh beza dengan unversiti-universiti yang di sana ada mata kuliah keduniaaan dan mata kuliah ‘ilmu agama.
Kira-kira akan kemanakah tujuan mahasiswanya di saat-saat manusia berlomba-lomba untuk mengejar dunia??? Rosululloh bersabda:
«فوالله لا الفقر أخشى عليكم ، ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من كان قبلكم ، فتنافسوها كما تنافسوها وتهلككم كما أهلكتهم »[متفق عليه]
“Tidaklah aku khawatir kefakiran akan menimpa kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan kepada kalian adalah terbukanya dunia, sehingga kalian berloba-lomba dalam mengejarnya sebagaimana mereka mengejarnya, dan dunia itupun menghancurkan kalian sebagaimana mereka telah dihancurkannya.”[Muttafaq ‘Alaih]
Kemudian Syaikh melanjutkan penuturannya: “Diantara perkara yang paling aneh dan mengherankan adalah ketetapan Majlis Ta’lim Al-‘Ali yang berupa persetujuan pembukaan kuliah Syari’ah dengan mata kuliah Perundang-Undangan di Jami’ah Al-Jauf, serta penggantian nama kuliah dengan nama Fakultas Syari’ah dan Perundang-Undangan.”
Walaupun point ini tidak terjadi di Jami’ah Islamiyah Madinah, tapi dari sini kita ambil pelajaran bahwa usaha untuk meruntuhkan dan melemahkan syari’at Islamiyah serta kekokohan manhaj di negri Saudi sudah mencapai taraf yang menkhawatirkan. Hanya kepada Alloh lah kita memohon pertolongan dan penjagaan.
Adapun mengenai kemunculan wartawati di Jami’ah Madinah, maka Syaikh mengatakan dalam point ke-15: “Diantara pembukaan baru yang terjadi di Jami’ah adalah masuknya para wartawati di tempat khusus untuk wanita pada muktamar yang diselenggarakan oleh Jami’ah dengan tema “Teroris” pada bulan yang lalu. Demikian pula adanya dialog antara wartawati tersebut dengan Rektor Jami’ah di penghunjung muktamar.”
Beliau melanjutkan penuturannya dengan penuh keheranan dan pengingkaran: “Aku tidak tahu kenapa bisa sampai terjadi dialog antara wartawati ini dengan pengganti Syaikh Bin Baz yang ke-5??!! Walupun wawancara tersebut melalui situs khusus sebagaimana yang dipahami dari pertanyaan, kenapa wawancara tidak dengan wartawan saja (kenapa harus wartawati??!!) semua ini tidak lain adalah dari makar orang-orang yang sudah termakan pemikiran barat,(1) serta usaha untuk menyebarkan pemikiran tersebut di lembaga-lembaga syari’at dan orang-orang yang di dalamnya. Sungguh adanya wawancara seperti ini memberikan angin segar bagi para wanita (yang sudah mulai rusak fitrohnya) dalam menyerukan gerakan “kebebasan wanita” yang mulai muncul akhir-akhir ini. Hal ini tidaklah pantas terjadi pada seorang Rektor Jami’ah Islamiyah. Sebab munculnya wartawati kebanyakannya tidaklah terjadi kecuali dengan membuka wajahnya dan ikhtilat(campur baur), yang merupakan ‘aib bagi seorang laki-laki untuk melakukannnya. Demikian pula safar tanpa mahram, yang semuanya itu adalah penyelisihan syari’at islam.”
Inanali llahi wa inna ilahi roji’un, betapa besar ujian yang menimpamu wahai Jami’ah Islamiyah, semoga Alloh memberikan hidayah kepada orang-orang yang punya kuasa untuk mengubah keadaan yang memilukan ini dan mengembalikan Jami’ah Islamiyah sebagaimana zaman Syaikh Ibnu Baz, serta mengokohkan dan menjaga negeri kaum muslimin dari rongrongan hizbiyyin, munafiqin dan orang-orang kafir.
RENUNGAN DAN NASEHAT:
Saudaraku salafiyyin semoga Alloh kokohkan kita di atas manhaj yang haq ini, apakah setelah ini semua kita akan mengatakan bahwa Jami’ah Islamiyah tetap dalam kesalafiyahannya dan mengingkari orang-orang yang mengatakan bahwa di sana hizbiyyun telah menancapkan taring-taringnya! Setiap yang berakal tentu akan menjawab tidak!! Sebab semua perubahan tersebut tidaklah terjadi (setelah taqdir yang Alloh tentukan) kecuali karena adanya hizbiyyun yang bercokol dan berusaha menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka serta menularkan kerusakan-kerusakan yang ada padanya.
Sudah sepantasnyalah bagi kita untuk mengambil pelajaran darinya sehingga markas-markas dakwah salafiyyah tidak terkena musibah yang serupa.
Dan inilah yang kami rasakan di markaz Darul Hadits Dammaj, para hizbi silih berganti melancarkan makarnya untuk meruntuhkan pusat dakwah salafiyyah serta mercusuar ahlus sunnah ini.
Kalaulah tidak karena pertolongan Alloh kemudian kekokohan Syaikh kami, wallohu A’lam apa yang terjadi di markaz ini. Oleh karena itu, ketika beliau (Syaikh YAHYA) dimintai nasehat dan tanggapan seputar pernyataan Syaikh ‘Abdul Muhsin ini beberapa hari yang lalu, beliau menyatakan prihatin dan kesedihannya atas perubahan yang terjadi pada Jami’ah Madinah ini dan menasehatkan bahwa kunci keselamatan adalah dengan tashfiyah yaitu memurnikan dakwah salafiyah dari noda-noda hizbiyyah dan perkara-perkara yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan berpegang teguh di atas manhaj salaful ummah.
(#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2 «!$# $Yè‹ÏJy_ Ÿwur (#qè%§xÿs? 4 ÇÊÉÌÈ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” [QS. Ali ‘Imron:103]
•br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7•?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
Berhati-hati dengan godaan dunia serta terus menerus memohon pertolongan kepada Alloh untuk ditetapkan di atas manhaj salafi ini.
Jika terjadi ketergelinciran segera ruju’ kepada Al-Haq.
Inilah prinsip-prinsip salafi yang barang siapa dengan jujur memegangnya pasti Alloh akan selamatkan dia dari fitnah yang ada
z`ƒÏ%©!$#ur (#r߉yg»y_ $uZŠÏù öNåk•]tƒÏ‰öks]s9 $uZn=ç7ߙ 4 •bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لاإله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Ditulis oleh :
Abu Zakariya Irham Al-Jawi
Di Darul Hadits Dammaj, 3 Rojab 1431 H

4. suka membalikkan kaedah seperti TAHDZIR di anggap GHIBAH,adapun GHIBAH mereka anggap TAHDZIRAN

Dalil-dalil dari Al-Quran

tentang permasalahan ini

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang menyakiti kaum mu’minin dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka (orang-orang yang menyakiti tersebut) telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab : 58)

Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya: “Yaitu orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dengan tanpa adanya kejahatan dari kaum mukminin tersebut, yang menyebabkan terjadinya suatu bahaya, maka sungguh orang-orang yang menyakiti kaum mukminin itu telah memikul dosa tuduhan keji ketika mereka melakukan tuduhan dengan tanpa bukti itu, dan juga mereka para penuduh itu telah memikul dosa yang jelas ketika mereka menganiaya dan mencabik-cabik suatu kehormatan yang Allah perintahkan untuk memuliakannya. Oleh karena itu, menyakiti seorang mukmin merupakan sebab bagi seseorang untuk menerima hukuman, dan beratnya hukuman itu sesuai dengan keadaan dan kedudukan si mukmin yang disakiti olehnya. Mencela dan menyakiti para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumannya paling berat, menyakiti para ‘ulama dan orang-orang yang tekun dalam ‘ibadah hukumannya juga lebih berat dibanding dengan menyakiti orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka.”

2.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah maka sesungguhnya dia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (An-Nisa’: 112)

3. Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

“Ingatlah ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan sementara hal itu di sisi Allah adalah sesuatu yang sangat besar.” (An-Nur: 15)

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah para pendusta.” (An-Nahl : 105)

Dalil-dalil dari As-Sunnah

1. Dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( أتدرون ما الغيبة؟ ) قلنا : الله ورسوله أعلم. قال: ( ذكرك أخاك بما يكره في غيبته )، قالوا : يا رسول الله أرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال : ( إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه ما تقول فقد بهته )

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : (Ghibah adalah) engkau menyebut-nyebut saudaramu sesuatu yang tidak disukainnya saat dia tidak ada bersamamu.” Para shahabat bertanya : “Ya Rasulullah bagaimana jika ternyata kejelekan itu memang ada pada diri saudaraku tersebut?” Beliau menjawab: “jika memang kejelekan itu ada pada dirinya maka engkau telah berbuat ghibah padanya, dan jika kejelekkan itu tidak ada pada diri sahabatmu maka engkau telah melakukan Buhtan terhadapnya.” (HR. Muslim)

2. Dari Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إن من أربى الربى الاستطالة في عرض المسلم بغير حق

“Sesungguhnya di antara kejelekan yang paling hina adalah mencemarkan nama baik dan kehormatan seorang muslim dengan tanpa haq.” (HR. Ahmad, dan Abu Daud; dishahihkan oleh Al-Albani)

3. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لما عرج بي مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم، فقلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم

“Ketika aku di mi’raj–kan aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku-kuku yang terbuat dari tembaga, mereka menggunakan kuku-kuku tembaga tersebut untuk mencakar dan mencabik-cabik wajah dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku bertanya kepada Jibril : “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (berbuat ghibah) dan mencemarkan nama baik serta kehormatan manusia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud; dishahihkan oleh Al-Albani)

4. Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhany radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من حمى مؤمناً من منافق أُراه قال بعث الله ملكاً يحمي لحمه يوم القيامة من نار جهنم ومن رمى مسلماً بشيء يريد شينه به حبسه الله على جسر جهنم حتى يخرج مما قال

“Barang siapa yang menjaga seorang mu’min dari kejelekan seorang munafiq, maka Allah akan mengutus seorang malaikat yang akan menjaga dagingnya pada hari kiamat dari neraka Jahannam. Dan barang siapa yang menuduh seorang muslim dengan suatu tuduhan untuk menjelekannya maka Allah akan menahannya di atas jembatan Jahannam, hingga dia mencabut tuduhannya itu.” (HR. Abu Dawud; dishahihkan oleh Al-Albani)

5. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

من قال في أخيه ما ليس فيه أسكنه الله ردغة الخبال. قالوا : وما ردغة الخبال؟ قال : عصارة أهل النار

“Barangsiapa menuduh saudaranya dengan suatu tuduhan keji yang tidak ada pada saudaranya itu, maka Allah akan menempatkannya di tengah-tengah “Radghatal Khobal”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah “Radghatal Khobal” itu?” Beliau menjawab : “Keringat dan nanah penghuni neraka.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan oleh Al-Albani)

6. Dari ‘Abdurrahman bin Ghunm radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

خيارعباد الله الذين إذا رُؤُوا ذُكِرَ الله، وشرعباد الله المشَّاؤون بالنميمة، المفرقون بين الأحبة وفي لفظ: المفسدون بين الأحبة، الباغون للبرآء العيب

“Sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang apabila dipandang mengingkatkan kepada Allah.. Sedangkan sejelek-jelek hamba Allah adalah mereka yang selalu mengadu-domba, yang memisahkan persahabatan atau kekeluargaan (dalam sebuah riwayat tersebut: yang merusak persahabatan atau kekeluargaan) yang mereka menyebar-luaskan (dengan cara dusta) kejelekan orang-orang yang tak bersalah (HR. Ahmad; dihasankan oleh Al-Albani dalam Kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)

Atsar dari Para ‘Ulama Salaf

1. Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bersabda :

يا لسان قل خيراً تغنم أو اسكت عن سوء تسلم وإلاَّ فاعلم أنك ستندم

“Wahai lisan berkatalah dengan perkataan yang baik, atau diamlah dari kekejian niscaya kamu akan selamat. Jika tidak, maka ketahuilah engkau pasti akan menyesal.”

2. Abu Qilabah Al-Jarmy ketika beliau menafsirkan firman Allah :

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak sapi sebagai sesembahan, kelak akan tertimpa kemurkaan dari Allah, dan akan merasakan kehinaan di dunia ini. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang membuat kedustaan” (Al-A’raf : 152)

Abu Qilabah berkata :

هي والله لكل مفترٍ إلى يوم القيامة

“Sungguh demi Allah ayat ini diperuntukkan bagi siapa saja yang membuat kedustaan sampai hari kiamat.” (disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya)

Bahaya Tuduhan Keji Tanpa Bukti, di antaranya :

1. Hal itu adalah kezhaliman, sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan orang-orang yang zhalim itu akan mengetahui ketempat manakah kelak mereka akan kembali. (Asy-Syu’ara: 227)

2. Hal itu merupakan sebab bagi orang yang dizhalimi untuk mendo’akan orang yang telah menzhaliminya agar ditimpa kejelekan

Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendo’akan wanita bernama Arwa yang telah menuduhnya dengan tuduhan dusta bahwa dia (Sa’id bin Zaid) telah mengambil tanah miliknya. Maka Allah mengabulkan do’a Sa’id bin Zaid radhiallahu ‘anhu.

3. Hal itu merupakan tindakan aniaya dan perampasan hak orang lain

Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan bahwa Allah akan menyegerakan hukuman bagi para penganiaya di dunia ini sebelum di akhirat kelak.

4. Hal itu merupakan kumpulan dari berbagai macam kejahatan.

Di mana terdapat padanya perbuatan Ghibah yang itu merupakan dosa besar, terdapat juga perbuatan Buhtan (Tuduhan Keji Tanpa Bukti) yang ini lebih besar dosanya dari pada ghibah, dan terdapat juga Kadzib (kedustaan dan kebohongan).

5. Apabila si pelaku meninggal dunia dan belum sempat bertaubat serta belum sempat meminta maaf kepada orang yang telah dizhaliminya maka pada Hari Kiamat kelak kebaikannya akan diambil dan diberikan untuk orang yang telah dia zhalimi.

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كانت عنده مظلمة لأخيه من عرضه أو من شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم, إن كان له عمل صالح أُخذ بقدر مظلمته, وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه

“Barang siapa yang memiliki tanggungan kezhaliman kepada saudaranya, baik itu karena dia telah mencemarkan nama baik saudaranya ataupun yang lainnya maka hendaklah dia bersegera meminta maaf kepada saudaranya pada hari ini juga, sebelum datangnya suatu hari dimana Dinar dan Dirham tidak lagi berharga. Jika dia memiliki amal kebaikan maka amal kebaikan itu akan diambil dan diberikan kepada orang yang telah dia zhalimi, namun jika dia tidak memiliki amal kebaikan maka dia akan menanggung kejelekan orang yang telah dia zhalimi itu.

Maka jelas sudah hujjah untuk mereka kaum hizbiyun,suka membuat MAKAR ahli dalam pembunuhan karakter untuk menjatuhkan AL HAQ lalu di jatuhkannya terdahulu orang2 yang menampakkan AL HAQ.

Supaya orang yang ingin mendapatkan kebenaran itu,menolak hujjah dari orang2 yang menampakkan AL HAQ karena telah jatuhkan dari sisi masa lalunya.mereka tidak paham setiap seorang muslim itu mempunyai masa lalu,dan setiap seorang muslim itu mempunyai masa futur dan sisi gelap.

Tidak masa itu di jadikan HUJJAH atau menjatuhkan kehormatan dari sisi gelap seorang muslim untuk merobohkan kebenaran yang di bawa orang yang di anggap lemah.kaedahnya jelas siapa menampakkan AL HAQ maka ambil AL HAQ itu bukan AL HAQ itu di buang karena faktor orang yang menampakkannya.

Kaedahnya jelas dalam ILMU JARH WAT TAD’IL,seorang yang pantas di JARH dan sangat membahayakan bukan perkara keFASIQAN karena perbuatan FASIQ tidak membuat seorang muslim sesat adapun berita darinya di koreksi kembali,

Kaedah TAHDZIR itu terbagi 3

1.TAKFIR (di kafirkan) seorang muslim yang murtad secara terang2an dan dia menyebarkan SUBHAT yang membuat seorang akan goncang IMANnya dan menyebabkan seorang muslim MURTAD maka seorang yang menyebarkan SUBHAT seperti tokoh spritual SYIAH RAFIDHAH KHOMAINI LA’NATULLAH yang terlah di KAFIRKAN oleh para ULAMA SALAFY DI JAMAN INI.

Catatan: maka ini jelas membahayakan AKIDAH umat islam

2.TABDI (di vonis ahlu bid’ah atau hizbi) seorang muslim di vonis MUBTADI atau HIZBI di karenakan berbuat BID’AH atau pemikiran baru menolak sunnah maka itu para ULAMA atau orang2 yang sanggup menjatuhkan vonis MUBTADI atau HIZBI sesuai pemahaman salafush shaleh.” ana tanyakan kepada syaikhuna abdulloh iryani hafizhohulloh tentang bolehkah penuntut ilmu menjatuhkan vonis kepada hizbiyyun ? ” beliau jawab : ” amar mar’uf nahi mungkar itu wajib seorang muslim,seperti orang merokok terang2an di depan umum ” lalu di nukilkan oleh ustadz asnur hafizhohulloh ” boleh asal perkaranya jelas dengan hujjah yg kuat,terbukti bukan QILA WA QOL.

Catatan: maka ini jelas membahayakan AKIDAH dan MANHAJ umat islam

3.TAFSIQ (di fasiqkan) orang2 yang berbuat maksiat secara terang2an dan bangga karena itu.

4. suka menampakkan gambar mahkluk hidup dan meremehkan hukum gambar mahkluk hidup

hal tersebut, dalilnya hadith `Aisyah Radiallahu`anhabahawasanya

Nabi Sallallahu`alaihiwasallam bersabda:أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَبِخَلْقِ اللَّهِSesungguhnya orang yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah……orang yang coba meniru ciptaan Allah( Muttafaqun`alaih)
dalam hadith Abu Juhaifah Radiallahu`anhu katanya:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ
وَثَمَنِ الدَّمِ…. وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ
Nabi Sallallahu`alaihiwasallam melarang dari harga( jual beli) anjing,…… …
…dan harga( jual beli) darah…dan telah melaknat para pembuat gambar

Jika dikatakan kepadamu: Apa kaitan antara gambar makhluk dengan syirik? Maka katakanlah: Sesungguhnya menggambar makhluk bernyawa menyebabkan pelakunya menyerupai dan berkongsi dengan Allah `Azza wa Jalla dalam(mencipta) hal tersebut, dalilnya hadith `Aisyah Radiallahu`anha bahawasanya Nabi Sallallahu`alaihiwasallam bersabda…
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
Sesungguhnya orang yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah orang yang cuba meniru ciptaan Allah
( Muttafaqun`alaih)

5. suka meremehkan AL HAQ di karenakan orang yang menampakkan AL HAQ kurang hapalan dan bacaannya kurang fasih lalu merobohkan AL HAQ itu karena alasan itu

sering kali mereka orang – orang sururiyyun melakukkan kepada orang yang mentahdzir kesesatan mereka.

6. banyak membuat majalah da’wah ( metode da’wah yang lemah )

Berdakwah Lewat Majalah

Soal :

Bagaimana pendapat Asy Syaikh tentang dakwah lewat majalah atau surat kabar? Dan kenapa majalah ini tidak ada di ma’had yang diberkahi ini (Dammaj)?

Jawab :

Dakwah dengan majalah dan surat kabar adalah dakwah yang lemah dan tertentu waktunya. Benar, dakwah dengan majalah mengandung sikap memaksakan diri, melakukan sesuatu di luar kemampuannya (takalluf), dan menyia-nyiakan waktu penuntut ilmu jika dia tidak bisa mengupayakan dirinya mendatangi (mencari ilmu).

Terkadang seorang penulis berupaya merangkai beberapa materi dalam waktu sehari atau dua hari, dan sibuk dengan hal demikian itu. Kemudian setelah itu majalah atau surat kabar itu diambil kemudian dibuang ke tong sampah dan kamu menjadi sebab terjadinya sikap menghinakan terhadap dalil-dalil yang tercantum padanya, baik dari Al Qur’an atau dari As Sunnah atau dari keduanya.

Adapun dakwah dengan kitab, buku, kaset, dan lisan, maka cara dakwah ini menjaga ilmu. Jika engkau menulis kitab, barangkali kitab itu terjaga sampai waktu yang dikehendaki Allah. Dia terjaga di dalam maktabah (perpustakaan), tidak dibuang di jalan manapun. Jika seseorang mendapati lembaran dari kitab di jalan, mereka mengambilnya dan berkata ini kitab seperti ini dan seperti ini.

Benar, begitu juga dakwah dengan kaset, terlebih lagi dengan kaset-kaset yang ada, yang telah tersebar luas dan beredar di antara manusia. Alhamdulillah, tidak ada sikap penghinaan di dalamnya di mana ketika ada yang terputus darinya, maka orang menyelamatkannya dari syiar agama.

Dakwah dengan lisan yaitu dengan berdiri di depan manusia ketika mengajari mereka serta duduk di depan mereka sehingga ilmu itu tersebar. Seperti ini dikatakan oleh Umar bin Abdul ‘Aziz ketika menulis risalah kepada ‘Amr bin Hazm. Ini adalah sarana dakwah yang terbaik. Adapun surat-surat kabar itu adalah barang dagangan orang-orang sufi, ikhwanul muslimin dan pengikut pemikiran Sayyid Qutb (Qutbiyun). Mereka adalah orang-orang pengangguran, sedangkan kalian (Salafiyyun) bukanlah pengangguran. Barang dagangan di sisi kalian tidak akan rusak.

Kalian mungkin dapat menyebarkan ilmu kalian dalam kitab-kitab Ahlu Sunnah, dan kalian lebih baik dari pada pemilik majalah dan surat-surat kabar, sampaipun berupa lembaran-lembaran yang terlipat seperti bulletin, kami tidak mendorong berdakwah dengannya dan menyebarkannya. Karena ia akan terputus dan tersia-sia dan sekalipun sudah banyak tersebar luas, tapi ia menyia-nyiakan sesuatu yang terjaga. Berbeza ketika makalah tersebut tertera di dalam risalah, dan alhamdulillah kami tidak memiliki sedikit pun dari perkara ini kecuali terbukukan, terjaga dan bermanfaat bagi manusia, dan ia memiliki bobot di kalangan manusia, mereka mengatakan telah terbit buku ini dan itu. Maka ini lebih baik dan lebih bermanfaat.

Kami nasihati saudara-saudara kami, hendaklah mereka mencurahkan sepenuhnya untuk ilmu. Baik dengan menghafal, muroja’ah (mengulang pelajaran), mengajar, berdakwah, melakukan pembahasan dan penelitian serta pertanyaan bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menulis maka lakukanlah. Dan tinggalkanlah majalah-majalah dan surat-surat kabar untuk mereka para penganggur yang terkadang majalah mereka di kemudian hari menjadi bungkus ikan atau ayam panggang atau yang lainnya sedangkan kitabmu terjaga rapi. Allahul Muwaffiq.

(Al As’ilah Al Indonisiah 29 Rojab 1425 H)

Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

7. banyak membuat dauroh – dauroh BEZAH BUKU di kampus – kampus

Penyelenggaraan Dauroh Di Kampus-kampus

Soal :

Apakah hukum menyelenggarakan dauroh ilmiah di kampus atau sekolah yang terdapat di dalamnya ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) selama kurang lebih satu bulan? Perlu diketahui bahwasanya kebanyakan dari kami tidak mengenal dakwah Salafiyyah kecuali dengan cara seperti ini. Dan dauroh ini tidak ada ikhtilath di dalamnya. Dan juga kelompok-kelompok hizbiyah mengadakan dauroh-dauroh mereka di tempat tersebut secara bergiliran. Seandainya hal tersebut keliru, maka bagaimana jalan keluarnya?

Jawab :

Penyelenggaraan dauroh di kampus yang terdapat di dalamnya ikhtilath, seandainya dauroh tersebut diselenggarakan pada waktu ikhtilath, maka itu adalah dauroh ikhtilathiyah dan telah lewat pembahasan bahaya ikhtilath. Dan seandainya ikhtilath di tempat tersebut terjadi pada sebagian waktu dan penyelenggaraan saudara-saudara kita as Salafiyyun di tempat tersebut pada waktu tidak ada ikhtilath, misalnya perempuan belajar pada waktu siang dan Salafiyyun mengadakan daurohnya pada malam hari yang tidak ada perempuan pada saat itu, maka tidak ada larangannya.

Yang menjadi tolak ukur adalah adanya ikhtilath, bukan tempat yang terpengaruh dengan adanya ikhtilath di dalamnya. Dan apabila mereka berikhtilath pada saat dauroh yang berkumpul di dalamnya orang-orang yang jelek dan baik, sunny dan hizby, laki-laki dan perempuan dan yang lainnya.

Maka hendaklah Ahlu Sunnah mengadakan dauroh mereka di masjid-masjid dan madrasah-madrasah yang khusus untuk mereka. Mereka tidak perlu dengan kumpulan dan campur baur seperti ini.

Dakwah Salafiyyah dan kecintaan terhadap dakwah Salafiyyah telah sampai pada orang yang jauh dan yang dekat. Bagi orang yang Allah Ta’ala kehendaki padanya kebaikan. Makabarang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, dia akan mengenalnya. Dan barangsiapa yang Allah Ta’ala kehendaki padanya kebaikan akan mengetahuinya, baik lewat internet, mendengar dari kaset-kaset atau lewat kitab-kitab yang disebarkan dan dicetak.

Dan jika perkaranya sampai seperti ini, kemudian tidak bisa dikenal kecuali lewat ikhtilath dan campur baur? Tidak….tidak benar!! Wahai saudaraku! Demi Allah, perkara yang mereka inginkan bisa membuat tergelincir dan tidak bisa diterima.

Fatwa Dari Al Allamah Al Imam Asy-Syaikh Yahya Al Hajury Hafidhohulloh

8. berusaha mengadu domba antara ULAMA SAUDI ARABIA dan ULAMA YAMAN dan menganggap ULAMA YAMAN kurang layak karena tidak eksis di saudi arabia

makar seperti ini sudah banyak bukti,di antara mereka menganggap tidak ada ULAMA di YAMAN.

selalu mereka banggakkan hubungannya dengan para ULAMA di SAUDI ARABIA,supaya apa yang kesesatan mereka lakukan mendapatkan TAZKIYAH dari ULAMA – ULAMA mereka undang.
padahal blom jelas bukti pembelaan da’wah mereka yang mengunakan uslub2 ihkwanul muslimun di ketahui oleh ULAMA tersebut.

dalam perkara juga di lakukan oleh para HIZBI JADID ( pengikut abdurahman al mari’e dan abdullah al mari’e).

mereka berusaha mendekati ULAMA – ULAMA SAUDI ARABIA untuk di ADU DOMBA,dan perkara ini jelas pada akhirnya sebagian dari mereka terRACUNI dari makar – makar hizbi jadid untuk mengacaukan da’wah yang ada di darul hadits dammaj.

padahal jelas ULAMA DI SAUDI ARABIA ” TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGATUR DARUL HADITS DAMMAJ ” yang terjaga dari hizbiyyah di bandingakan JAMIYAH ISLAMIYYAH.

PUJIAN-PUJIAN PARA ULAMA TERHADAP SYAIKH MUQBIL BIN HADY

Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Utsaimin : “Aku menganggao beliau (Syaikh Muqbil) seorang Mujaddid” (Nubdzah mukhtasoroh min Jasho’i walidiy, Ummu Abdillah Al wadi’iyah)
Berkata Syaikh Muhammad bin Sholih Utsaimin : “Syaikh Muqbil Imam” maka sebagian orang-orang yang hadir menyampaikan celaan orang-orang yang mencela syaikh Muqbil. Maka Syaikh Utsaimin mengatakan “Syaikh Muqbil Imam, Syaikh Muqbil Imam”
Yang mengabarkan hal ini adalah Syaikh Abdullah Bin Utsman Ad dzamari
(Bayanil Hasan bi tarjamah Imam Wadi’I, Abdul Hamid Al Hajuuri)

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani : ” Dan mereka yang mencela kedua syaikh ini (Syaikh Rabi’ dan Syaikh Muqbil) bisa jadi dia orang jahil dan bisa jadi dia pengikut hawa nafsu.maka mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya dan kita memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepadanya atau mematahkan punggungnya” (Dari Kaset Silsilah Huda wa nuur no 1/851. Nukilan dari Nubdzah mukhtasoroh min Jasho’i walidiy, Ummu Abdillah Al wadi’iyah)
Berkata Syaikh Rabi’ bin Hady ketika meninggalnya Syaikh Muqbil :”Duhai, seandainya diriku sebagaimana kedudukannya, karena dia memberikan manfaat kepada manusia lebih banyak dari yang aku berikan” (Nubdzah mukhtasoroh min Jasho’i walidiy, Ummu Abdillah Al wadi’iyah)

Berkata Syaikh Rabi’ bin Hady : ” Maka sesungguhnya milik Allah apa-apa yang dia mengambilnya dan dia berikan. Dan setiap sesuatu di sisi Allah telah ada batas akhir yang ditentukan. Inilah duka kami semua untuk kalian dengan meninggalnya sang pembawa bendera sunnah dan tauhid. Dialah da’i yang menyeru kepada jalan Allah………………………dan telah tersebar pengaruh dakwahnya ke seluruh penjuru muka bumi”
(Bayanil Hasan bi tarjamah Imam Wadi’i, Abdul Hamid Al Hajuuri)

Berkata Syaikh Rabi’ bin Hady : “Lihatlah Syaikh Muqbil, beliau telah mengeluarkan para pengarang,pentahqiq dan para pengajar. Mereka adalah ulama”
(Dikabarkan oleh Al Akh Ali Al Bana’i Al Yafi’i. Nukilan dari Ibna’il Fadla, Sa’id bin Da’as Al Yafi;i)

Berkata Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi : “Di yaman terdapat ulama, dan aku telah membaca sebagian risalah dan kitab mereka, (hal ini) menunjukkan bahwa mereka memiliki ilmu dan tidak akan datang hal ini dari orang-orang yang bodoh”
(hal ini disampaikan beliau setelah meninggalnya Syaikh Muqbil, Nukilan dari Ibna’il Fadla, Sa’id bin Da’as Al Yafi;i)

Dan Syaikh Yahya bin Ali mengabarkan bahwa Syaikh Rabi’ mengatakan :”Beliau (Syaikh Muqbil) Mujaddid di negeri yaman, dan sesungguhnya hal itu tidak ditemukan semnejak zaman Abdurrozaq As Shon’ani dengan bangkitnya beliau dengan dakwah dan memperbaharui (membangkitkan) sebagaimana yang telah Al wadi’i lakukan” (Nubdzah mukhtasoroh min Jasho’i walidiy, Ummu Abdillah Al wadi’iyah)

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani : “Dan adapun orang-orang yang ahli dalam ilmu ini (ilmu hadits) mereka tidak meragukan tentang dho’ifnya hadits semisal ini.Maka salah satunya syaikh yang mulia Muqbil bin Hady Al Yamani, beliau mengatakan dalam takhrijnya atas (tafsir) ibnu katsir 1/53 setelah beliau berbicara tentang perawi satu persatu :”Dan hadits ini dhoi’if dengan sebab terputusnya sanadnya dan dho’ifnya terdapat abdullah bin Al Wulaid Al Wushafi (Silsilah Hadits Dho’ifah 5/95)
(Nukilan dari Bayanil Hasan bi tarjamah Imam Wadi’i, Abdul Hamid Al Hajuuri)

Diceritakan kepada Syaikh Abdul aziz bin Baaz tentang penyebaran dakwah Syaikh Muqbil di yaman dan di luar yaman, maka beliau berkata : “inilah buah keikhlasan, inilah buah keikhlasan”
(Nukilan dari Bayanil Hasan bi tarjamah Imam Wadi’i, Abdul Hamid Al Hajuuri)

PUJIAN PARA ULAMA TERHADAP SYAIKH YAHYA BIN ALI AL-HAJUURI

Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i :

1. Beliau berkata dalam muqoddimah kitab “Dhiya’us salikin” : “telah dibacakan kepada saya sebagian dari risalah safar yang telah ditulis oleh saudara kita Asy Syaikh Al Faadhil Az Zaahid ( yang zuhud) Al Muhadits (Ahlul Hadits) Al faqih (Ahlul Fiqh)…… dan Al Akh Asy Syaikh Yahya,dia adalah sosok seseorang yang dicintai di kalangan saudaranya ahlus sunnah, karena mereka melihat pada dirinya berupa aqidah yang baik dan kecintaannya kepada as sunnah dan kebenciannya terhadap bid’ah dan hizbiyyah yang sangat mudah merubah kepribadian seseorang.dan dia memberikan manfaat kepada saudaranya dari kalangan kaum muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandarkan diatas dalil”

2. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “ahkamuh jum’ah”: “Dan asy syaikh yahya (semoga Allah menjaganya) diatas puncak kehati-hatian,ketaqwaan,zuhud,waro’ dan puncak takut kepada Allah.Dan dia adalah orang yang selalu mengatakan (menyuarakan) Al Haq yang dia tidak takut (karena sebab Allah)., celaan orang yang mencela.
Dan dia adalah yang menggantikan saya dalam memberikan pelajaran-pelajaran (Durus) di Darul Hadits di Dammaj, yang dia menyampaikannya dengan sebaik-baik yang diharapkan.”

3. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Islahul Mujtama’” :……..dan Al akh syaikh Yahya bin Ali Alhajuuri , Alhamdulillah (berkat keutamaan dari Allah) sungguh telah menjadi rujukan dalam pelajaran dan fatwa-fatwa. Saya memohon kepada Allah agar membalasnya dengan kebaikan dan agar memberikan berkah dalam ilmunya, hartanya dan keluarganya….”

4. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqodimmah kitab “ahkamut tayammum” : “Dan saya telah melihat apa yang ditulis oleh Asy Syaikh Al faadhil yahya bin Ali Al hajuuri dalam permasalahan tayammum, maka saya mendapatinya telah meletakkan di dalamnnya faidah faidah yang pantas bagi seseorang untuk rihlah (menempuh pejalanan) untuk mendapatkan faedah-faedah tersebut, yaitu berupa ucapan beliau tentang hadits, rijal sanad (orang-orang yang meriwayatkan hadits)dan istimbat (pengeluaran/penarikan hukum) dalam permasalahn fiqih, yang hal tersebut menunjukkan dalamnya ilmu beliau di dalam ilmu hadits dan fiqih.
Dan tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa apa yang dia kerjakan dalam kitab ini lebih dari apa yang di kerjakan oleh Al hafidz Ibnu hajar dalam kitabnya “fathul Bari” dalam bab ini (tayammum)berupa penjelasan tentang kedudukan hadits dan penjelasan tentang kedudukan hadits dan tentang derjat (tingkatan) hadits. dan bukan maksud saya bahwa Al Akh faadhil Yahya ilmunya melebihi Al Hafidz (ibnu hajar) dalam ilmu hadits, akan tetapi Al Akh yahya lebih mutqin tentang apa yang dia tulis di dalam kitab syarah yang barokah ini,maksud saya “Syarah Al Muntaqa’ karya Ibnu Al Jaruud, dan barokah dari Allah dan semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan”.
5. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Fathul Wahab”:…. dan di zaman ini kita sekarang, para ulama yang mereka berdiri di hadapan bid’ah-bid’ah ini, diantara mereka adalah Asy Syaikh Abdul Azis bin baaz, da ayah kita Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani….
Dan di yaman sejumlah ulama yang diberkahi oleh Allah, Asy Syaikh Abdul Azis Al Buro’i,…..(lalu beliau menyebutkan sejumlah ulama yaman)…..dan diantara mereka adalah Asy Syaikh Al Faadhil As Sunni As Salafi yang terus menerus dars-dars (pelajaran-pelajaran) dan kitab-kitab beliau memerangi kebid’ahan, dan sesungguhnnya tulisan (kitabnya) ini berupa penjelasan tentang bid’ahnya mihrab adalah bukti terbesar atas hal itu. Dia adalah Asy syaikh Yahya bin Ali Al hajuuri, semoga Allah memberkahinya dan usahanya dalam memerangi kesyirikan dan kebid’ahan. Dan semoga Allah menolak/mencegah teradap diri kita dan dirinya segala kejahatan dan segala yang dibenci.”

6. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam tarjamah beliau, tatkala beliau menyebutkan murid-murid beliau, dan diantara mereka adalah “Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuuri, Abu Abdirrahman termasuk diantara yang hafidz Al Qur’an dan mustafied dalam berbagai cabang ilmu, dan saya telah mendengar sebagian pelajaran-pelajarannya yang menunjukkan istifadhahnya dan dia kuat dalam tauhid.”

7. Dan beliau (Syaikh Muqbil) berkata dalam muqoddimah kitab “Ash shuhu Asy Syariq”:”Saya kagum dengan dia, seorang bahits (orang yang mempunyai kemampuan dan kesehariannya membahas pemasalahan dari kitab-kitab para ulama) yang mengumpulkan catatan-catatan faedah,baik dalam fiqih,hadits dan tafsir.”
Dan maha benar Allah tatkala berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan bagi kalian furqon (Untuk membezakan antara yang haq dan yang bathil)”
Dan Allah juga berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alllah dan berimanlah kepada RasulNya, maka Allah akan memberikan kepada kalian dua bagian dari rahmatNya dan menjadikan bagi kalian nur yang kalian berjalan diatasnya”.
Dan Asy Syaikh Yahya, Allah bukakan bagi dia karena sebab berpegang teguhnya dia dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.

8. Wasiat Syaikh Al Imam Al Allamah Al Mujahid Muqbil bin Hadi Al Wadi’i : “Dan saya wasiatkan kepada mereka (kerabat beliau dari penduduk dammaj) terhadap asy syaikh Yahya bin Ali Alhajuuri untuk berbuat baik dan agar jangan ridho dengan diturunkanya beliau dari kursi karena beliau adalah nashih amin (penasehat yang terpercaya)”

9. Dan berkata al akh Abdullah al maathir :”Dan sungguh saya pernah bertanya kepada asy syaikh Muqbil, dan kami demi Allah, tidak ada antara saya dengan beliau kecuali Allah, dan kami berada di kamar beliau diatas tempat tidur beliau yang beliau tidur diatasnya, kemudian saya katakan kepada beliau: “wahai syaikh, kepada siapa ikhwan ahlus sunnah di yaman merujukkan urusan-urusan mereka dan siapakah dia yang paling berilmu di yaman ?” maka syaikh muqbil terdiam sebentar dan berkata :”asy syaikh Yahya”
Ini yang saya dengar dari syaikh muqbil, dan bukanlah maksud disini bahwa kami menjatuhkanulama-ulama yaman,karena sesungguhnya kami memuliakan dan mencintai mereka karena Allah”
(dinukil dari “asy syaikh yahya fi suthur wa makanitihi inda imam wadi’i” hal 4″)

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholi

Berkata syaikh Rabi bin hadi yang dinukilkan oleh asy syaikh Abu Hamam Al Baydoni :”dan saya yakini (yang saya beragama kepada Alllah Azza wa jalla dengannya) bahwa, asy syaikh yahya adalah seorang ahu taqwa dan waro’ dan zuhud (dan beliau memuji asy syaikh Yahya) kemudian beliau mengatakan :”dan beliau telah memegang dakwah salafiyah dengan tangan besi dan tidaklah pantas (untuk memegangnya) kecuali dia dan orang-orang semisalnya. sampaikan salamku kepada Al Wushobi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Wushobi) dan Al Hajuri (Asy Syaikh Yahya) dan saudara-saudaranya (Ahlus sunnah) dan katakan kepada mereka bahwa walau datang kepadaku siapapun dia, saya tidak akan mendengar kalam tentang mereka, (yang) menjelekkan mereka , sampai-sampai kalaupun mereka datang kepadaku dengan kalam sebesar gunung makkah, maka saya tidak akan membuka telinga saya untuk itu.. Bagaimana bisa saya berbicara terhadap orang yang menginjak dunia dengan kaki-kaki mereka sementara manusia berkumpul pada dunia tersebut, bahkan mereka mengusir jam’iyah hizbiyyah yang memecah belah umat dan mengusir bid’ah dan kemudian saya berbicara (menyudutkan mereka), ini tidak masuk akal.”
(ucapan ini disampaikan oleh syaikh Abu hammam Al Baydoni kepada Al Akh Abu Bilal Al hadromi melalui telepon. dan kasetnya ada di maktabah as salafiyyah di Al Hamy.dan jawaban syaikh Rabi’ ini terjadi beberapa bulan lalu pada tahun ini (1428H))
Mengabarkan kepada kami asy syaikh Abu hamam, berkata asy syaikh Al Allamah Rabi’ bin Hady: “saya tidak mengetahui satu tempat pun untuk ilmu seperti dammaj, hal itu dikarenakan seorang yang sholeh pergi ke dammaj dan tinggal dalam waktu yang singkat kemudian datang kepada kita dengan ilmu yang banyak”.

Kemudian As Syaikh abu hammam berkata :”dan sekarang 17 sya’ban 1428 H beliau syaikh Rabi’ menulis sebuah kitab tentang para ulama besar yang telah terdahulu, bagaimana mereka dahulu menjaga sunnah dan beliau memperlihatkannya kepadaku, kemudian berkata :”ini saya tulis untuk orang-orang semisal tholibul ilmi di dammaj, karena sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang seperti mereka dalam menjaga sunnah”
Ini beliau (Abu Hammam) sampaikan lewat tulisan yang dia tulis di tempat pertama dari kitab majmu’ rasail tulisan asy syaikh Ahmad An najmi yang beliau kumpulkan dan bagi-bagikan

Berkata Al-Akh Samir sebagaimana dalam Risalah “Ahlu Jaddah” yang disampaikannya kepada Syaikh Yahya bin Ali : “Aku berkata kepada Syaikh Rabi’ bahwa pengikut Abul Hasan Al Mishri mengatakan bahwa di Yaman tidak ada ulama, maka Syaikh Rabi’ mengatakan :” Syaikh Muhammad, siapa dia ??? Syaikh Yahya , siapa Dia ??? dan selain dari keduanya dari saudara-saudara mereka”” (Nukilan dari Ibna’il Fadla, Sa’id bin Da’as Al Yafi’i)

Syaikh Muhammad bi Abdul Wahab Al Wushobi
Berkata asy syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Wushobi, sebagaimana hal ini dinukilkan oleh syaikh yahya dalam dars beliau, tatkala asy syaikh Muhammad berkata kepada beliau :”Dakwah salafiyah selalu diincar dan engkau wahai aba abdirrahman (Syaikh yahya) adalah orang yang pertama diincar.”
Dan beliau (Syaikh Muhmmad bin Abdul Wahab) juga berkata:”….maka semoga Allah membalas asy syaikh Al Faadhil, Al Muhadits, Al faqih pengganti syaikh mjuqbil di markaznya dengan kebaikan atas yang dia berikan untuk dakwah.”

Syaikh Muhammad Al Imam
Syaikh Muhammad Al Imam berkata :”Tidak seorangpun yang mencela syaikh al allamah yahya bin ali Alhajuuri kecuali dia seorang yang jahil atau pengikut hawa nafsu (dinuki dari risalah, “madza yanqimuuna yahya” hal 6″
Syaikh Muhammad Al Imam berkata : “Tidaklah pantas untuk melakukan Jarh wa Ta’dil di zaman ini kecuali Syaikh Robi’ dan Syaikh Yahya”
(dinukil dari “asy syaikh yahya fi suthur wa makanitihi inda imam wadi’i” hal 5″)

Syaikh Abdul Azis Al Bura’i
Berkata asy syaikh Abdul Azis Al Bura’i :”Dan syaikh yahya adalah salah seorang pahlawan (singa) dari pahlawan-pahlawan (singa) sunnah, mahkota diatas kepala ahlus sunnah”
(dinukil dari kaset “jilsal ashabul qushai’ar” dan kasetnya ada di tasjilat darul atsar dammaj Yaman)
Berkata asy syaikh Abdul Azis Al Bura’i : “Dan kami menganggap bahwa barangsiapa yang berbicara terhadap Syaikh Yahya, maka dia telah berbicara terhadap kami (Para ulama Yaman) Dan barangsiapa yang berbicara terhadap Dammaj, maka dia telah berbicara terhadap kami semua”
(dinukil dari kaset “jilsal ashabul qushai’ar” dan kasetnya ada di tasjilat darul atsar dammaj Yaman)

Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi
Syaikh Ahmad An Najmi ditanya :”apa pendapat syaikh tentang orang yang berbicara terhadap para masyaikh (para ulama) berikut ini : Syaikh Rabi’ almadkholi, syaikh Muhammad bin abdul wahab al wushobi, Syaikh Yahya bin ali Al hajuuri ?”

Beliau menjawab :”Barangsiapa yang berbicara terhadap ahlus sunah dan para pembawa manhaj salafy, maka hal itu adalah dalil/bukti yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah. Dan para ulama tersebut, kita meyakini bahwa mereka adalah ahlus sunnah dan bermanhaj salafy, dan tidaklah kita mentazkiah mereka atas Allah azza wa jalla.Bahkan kita meminta kepada Allah kekokohan dan pemantapan bagi semua untuk setiap kebaikan. Dan kita bedoa kepada Allahyang maha agung untuk menjaga mereka dari setiap kejelekan dan dari hal-hal yang dibenci”

(sebagaimana dalam kitab “Al fatawa Al jaliyah anil manahij ad da’a.

Artikel ini adalah sumbangan dari Al Akh Abu Abdirrahman Al Harits

di rangkum : muhammad ibnu mudaharim

 
Tinggalkan komen

Posted by di April 26, 2011 in Manhaj

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: