RSS

Larangan Wanita Bersafar Tanpa Mahram

12 Jul

WANITA DIHARAMKAN BERMUSAFIR TANPA MAHRAMNYA

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bermusafir dalam jarak sehari semalam, kecuali disertai mahramnya”.(Muttafaqun alaihi)

 

Hadis ini menjelaskan haramnya wanita bermusafir tanpa mahram dalam jarak sehari semalam. Tetapi bukan bererti wanita dibolehkan bermusafir dengan tanpa mahram jika jaraknya kurang dari sehari semalam, kerana ada beberapa hadis lainnya yang menerangkan dengan jelas haramnya wanita bermusafir tanpa mahram secara mutlak (yakni tidak terikat dengan jarak maupun waktu). Diantara hadis-hadis tersebut, adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu :

 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bermusafir, kecuali bersama mahramnya”. Lalu seorang sahabat berkata kepada Beliau,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya isteriku pergi berhaji, sedangkan aku diperintah untuk turut serta dalam jihad (peperangan) ini dan itu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Kembalilah dan berhajilah bersama isterimu.”

 

Guru saya, Syaikh Salim Eid al Hilali (anak murid senior Syaikh Nashiruddin AlBani) berkata,”Hadis ini menerangkan larangan yang sangat jelas tidak dibolehkannya seorang wanita bermusafir tanpa mahram. Ada beberapa riwayat yang menerangkan batasan jarak (diharamkannya wanita bermusafir tanpa mahram). Sebagian riwayat menyebutkan “di atas tiga hari”, dan riwayat yang lain “dua hari”, dan lainnya “jarak (perjalanan) satu hari”, dan yang lainnya “jarak (perjalanan) satu hari satu malam”, dan riwayat yang lainnya lagi “jarak perjalanan beberapa mil”. (Terjadinya perbedaan) riwayat-riwayat tersebut, disebabkan berbezanya orang yang bertanya (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tempatnya. Akan tetapi, (sesungguhnya) diantara riwayat-riwayat tersebut tidak ada perbezaan. Wal hasil, wanita dilarang (diharamkan) bermusafir tanpa mahramnya selama bermusafir tersebut disebut safar.

 

Agama Islam yang hanif ingin menjaga wanita Muslimah dari setiap bahaya yang akan menimpanya dan ingin menjaga kehormatannya dengan berbagai cara dan bermacam-macam wasilah guna memberikan manfaat baginya baik di dunia maupun di akhirat. Berbagai berita kita perolehi dari media massa tempatan bagaimana para wanita ‘dikeldaikan’ oleh sindiket dadah, di culik dan dirogol malah dibunuh apabila berada jauh dari pangkuan mahramnya. Oleh kerana itulah Islam mensyaratkan mempunyai mahram dalam safar bagi wanita Muslimah tersebut. Dan ini adalah perhatian syariat Islam yang lurus kepada kaum wanita dan perkara ini tidaklah membawa mereka kepada jurang kebinasaan atau kesempitan.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka apabila keluar, syaitan akan menghiasinya.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi dan disahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil jilid I)

 

Keluarnya wanita berseorangan atau bersama teman-teman sejenisnya akan memberikan dampak yang negatif bagi kaum lelaki maupun bagi dirinya sendiri, lebih-lebih bila ia keluar dengan ber-tabarruj (yakni berhias seperti wanita kafir), menampakkan perhiasan bukan pada mahramnya. Maka syariat melarang mereka dari banyak melakukukan aktiviti di luar rumah tanpa uzur yang syar’i, sebaliknya Islam memerintahkan kepada mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan agar mereka menjaga dirinya, agamanya, dan kehormatannya dari kehinaan dan kerendahan yang akan menimpanya.

 

Allah berfirman ,”Dan tidaklah boleh bagi lelaki yang mukmin dan tidak  (pula)bagi perempuan yang mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.”(QS: al-Ahzab:36)

 

 

Al Faqir Ilallah,

Abu az-Zubair

Maahad Dar Al Quran wal Hadeeth

 
Tinggalkan komen

Posted by di Julai 12, 2011 in Muslimah

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: